Obat Sapu Jagat Favipiravir (Avigan) Siap Lawan Covid-19, Apa Risikonya?

95
Foto : Liputan6

Oleh : Faisal Machmud al-Rasyid (Abanggeutanyo)

Butota (Lifestyle) – Dengan antusias dan gembira Presiden Jokowi mengumumkan pada 20/3/2020 pemerintah telah memesan dua jenis obat yaitu Avigan dan Chloroquine (Klorokuin).

Dalam kesempatan tersebut kepala negara mengatakan telah siap memesan 5 ribu Avigan dan sedang dipesan 2 juta lagi. Sementara obat Chloroquine telah siap 3 juta.

Tidak jelas angka yang disebut itu dalam satuan butir atau untuk jumlah orang. Tapi apapun satuannya yang jelas niat baik tersebut adalah bukti bahwa pemerintah tidak diam. Meskipun BELUM ada antibiotik khusus untuk mengatasi Covid-19 apapun dilakukan agar lebih cepat meredam wabah pandemik tersebut.

Terkait dengan salah satu obat yang dipesan yakni Avigan sesungguhnya adalah sebuah merek obat Favipiravir atau Favilapir atau T-705 yang diperoduksi oleh Toyama Chemical Co (Fujifilm Group). Obat ini pernah digunakan untuk mencegah virus ebola yang menyerang Afrika barat pada Agustus 2014. 

Cambridge.org pada edisi 1 Februari 2015 mengatakan Favipirapir dapat digunakan untuk melawan pandemi virus seperti virus Ebola, Pandemi Influenza H1N1, Demam Lassa dan Demam Berdarah Argentina.

Mirip obat “sapu jagat” tampaknya Favipiravir mampu bekerja untuk berbagai pandemi yang telah ada. Sumber di atas menambahkan ada juga kekuatiran penggunaan obat tersebut. Pertama karena obat tersebut BELUM diuji secara klinis terhadap pasien ebola pada saat itu. Kedua, Favipiravir memiliki risiko Teratogenisitas dan Embriotoksisitas. 

Risiko Teratogenisitas singkatnya adalah potensi masuknya agen asing pada janin sehingga cacat pada saat lahir. Sementara itu risiko Embriotoksisitas adalah risiko keracunan pada embrio. Berdasarkan kedua risiko tersebut, Favipiravir tidak dianjurkan diberikan pada wanita yang baru atau sedang hamil. 

“Favipiravir is known to be teratogenic; therefore, administration of favipiravir should be avoided in women if pregnancy is confirmed or suspected, tulis sumber drugbank.ca.

Kembali pada obat Favipiravir. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh sciencedaily.com pada 13 Oktober 2015 memberi kesimpulan tentang”kehebatan” Favipiravir. 

Berdasarkan beberapa kali  eksperimen terhadap kelinci percobaan ternyata Favipiravir mampu bekerja efektif mengobati virus Lassa yang menyerang sekitar 300 ribuan orang dan menewaskan 5 ribuan  di Afrika barat meliputi Siera Leone dan Liberia pada saat itu. Masih menurut sumber di atas, Favipiravin disebut-sebut bekerja lebih baik dari Ribavirin. 

Di Jepang, hingga pertengahan Maret 2020, obat sapu jagat Favipiravir sudah digunakan untuk  sedikit saja penderita Covid-19. Menurut salah satu sumber di kementerian kesehatan Jepang, obat tersebut telah diberikan kepada 70 – 80 penderita covid-19 tetapi TIDAK bekerja dengan baik terutama pada pasien yang telah diserang sangat serius oleh virus Covid, sebagaimana ditulis oleh Guardian di sini.

Sejumlah pasien yang sembuh (dari) hasil sinar X antara pasien yang menkonsumsi Favipiravir menunjukkan peningkatan kondisi parau-paru hingga 91% dibandingkan 62% pasien yang tidak menggunakan obat tersebut. Tetapi klaim ini ditolak oleh pihak produsen obat tersebut (Toyama.co).

Belum ada informasi apakah obat ini juga pernah diberikan pada 750 penderita Covid yang dikarantina di dalam kapal pesiar Diamond Princess pada Februari 2020 lalu. Tetapi hingga kini pemerintah Jepang –entah karena alasan apa– juga BELUM merekomendasikan secara resmi penggunaan obat Favipiravir untuk negaranya sendiri.

Mengapa pemerintah Jepang belum merekomendasikan merek Avigan buatan Toyama Chemical.co untuk mengatasi Covid-19 di negaranya sendiri? Apakah karena mereka sedang menyimpan “senjata” khusus yang disebut  “Camostat Mesylate” atau karena ada hal lain misalnya karena memang belum menemukan antibiotiknya?

Berdasarkan laporan WHO nomor 59 edisi 19 Maret 2020, sampai kini total penderita covid-19 di daratan Jepang sebanyak 829 orang termasuk total kasus terbaru 15 orang dan kematian terbaru 4 orang.

Sejumlah ilmuan Jerman menduga Jepang telah menemukan obat khusus untuk memerangi Covid-19 yang disebut di atas sebagaimana dilansir oleh Forbes edisi 3 Maret 2020 lalu.

Terkait dengan kebijakan pemerintah Indonesia memborong Avigan sebagaimana disebut di atas perlu dilihat dari sisi positif, sebuah langkah peduli saat obat khusus memerangi Covid-19 belum ditemukan atau diperjual belikan secara massal. 

Namun demikian di balik perhatian itu kita mengingatkan parah ahli yang berkompeten agar memperhatikan apakah obat tersebut cocok untuk memerangi Covid-19? 

Selain itu parah ahli memberi masukan kepada pemerintah apakah penggunaan obat itu mengandung risiko Teratogenisitas dan risiko Embriotoksisitas, dan dalam kadar seperti apa hal itu bisa terjadi.

Para ahli berkompeten (medis dan kesehatan dan sebagainya) juga memberi arahan penggunaaan obat sapu jagat yang sejatinya efektif untuk mengatasi Ebola, Influenza H1N1, demam Lassa dan semam berdarah Argentina agar juga ampuh untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Peranan para ahli medis, obat dan kesehatan dan lain-lain sangat penting agar niat baik pemerintah berdampak positif dan maksimal. (***)

Artikel Ini sudah terbit pada Sabtu 21 Maret 2020 di https://www.kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here