Opini : (Harusnya) Malu, Budaya Jepang Dan Harga Diri Pemimpin

462
Foto : Lestari Budaya Indonesia

Oleh : Jeffry As. Rumampuk / Pemimpin Redaksi butota.id

Butota.id (Opini) – Mengupas fungsi pedang panjang dan pendek yang biasanya dibawa pendekar Jepang saat masa keemasan samurai, adalah budaya yang hanya memberi pilihan untuk menang. Dimana, sang pendekar lebih memilih harga dirinya dari pada malu akibat kalah atau tak mampu mengemban amanah (perintah/tugas).

Dua bilah pedang tersebut adalah katana yang biasa digunakan sebagai senjata untuk menuntaskan misi yang diemban, sedangkan yang satunya adalah tanto berukuran lebih pendek dan digunakan untuk “Seppuku” atau melakukan bunuh diri jika gagal melaksanakan tugasnya.

Seperti kita ketahui, di Jepang budaya malu sangat kuat dan mengakar. Walaupun seseorang itu belum dinyatakan bersalah atau baru ditahapan wacana sekalipun, budaya ini menjadi pendorong bagi pejabat ataupun pemimpin yang tertuduh untuk mengundurkan diri sebab tak mampu menjaga dan melaksanakan amanah rakyat. Hal ini (Budaya Malu) sudah menjadi bagian dari kode etik samurai yang kita kenal dengan sebutan “Bushido”.

Saat ini, memang budaya “Harakiri atau memotong perut sendiri memang nyaris hilang di negeri matahari terbit itu. Bukan berarti spirit untuk (merasa) malu saat gagal atau melakukan kesalahan itu hilang,namun hingga kini tetap tertanam dalam jiwa para pemimpin disana. Sebab budaya malu  telah menjadi ciri khas untuk tetap menjunjung tinggi integritas kerja, sikap, adab dan terhadap sumpah jabatannya.

Foto : Abbys – Alpha Coders

Di negeri kita, budaya itu belum menjadi kebiasaan. Hingga saat ini pejabat tetap dapat duduk di kursi empuk meski tidak banyak yang dilakukan atau tidak ada peningkatan yang berarti. Bahkan yang lucunya bukannya mundur, pejabat seperti ini (masih banyak) yang tidak malu mencalonkan diri lagi. Anehnya, mereka yang memiliki kinerja buruk, tak memiliki moralitas dan seakan menyepelekan hukum adat juga selalu merasa tebal muka serta bangga dengan janji-janjinya yang terkadang belum ditepati.

Di negara yang menjunjung tinggi integritas, pejabatnya banyak memilih mundur dan bahkan telah menjadikan pilihan yang prinsip jika tahu dirinya gagal melaksanakan tugas. Sementara di negeri ini, harus diakui banyak memiliki keunikan. Mundur hampir selalu menjadi pilihan terakhir, kalau akhirnya pun mundur itu bukan karena mawas diri atas setiap perbuatannya yang konon dibungkus “dari dan atas nama rakyat”.

Namun pilihan mundur biasanya dipaksakan jika sudah berstatus tersangka, walau demikian masih banyak yang berkelit dan berupaya agar tetap menjaga jabatannya. Ada juga yang mundur jika merasa tahu kalau tidak akan mungkin menang, bahkan mundur bukan karena sebagai bentuk kesadaran namun hanya karena lebih meminimalkan resiko “kalah banyak”. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh pejabat yang negaranya memiliki integritas, biasanya mereka mundur karena dipicu dengan masalah kecil. Misalkan, menonton film dewasa saat sidang paripurna atau melakukan video call dengan wanita lain.

Sebagai contoh, mundurnya Perdana Menteri Naoto Kan hanya karena gagal mengatasi bencana nuklir di Fukushima pada tahun 2011 silam. Lalu ada juga Menteri Kuangan Jepang Tadahiro Matsushita yang melakukan bunuh diri karena perselingkuhan. Selain itu, mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun yang juga bunuh diri karena sangat malu dengan skandal korupsi yang melibatkan keluarga dan kroninya. Untuk diketahui, Sebelum Presiden Roh bunuh diri, bekas anak buah dan kroninya telah melakukannya terlebih dahulu.

Di negara yang sangat menjunjung tinggi integritas, banyak pejabat memilih mundur sebelum kasusnya meluap sehingga kesalahannya tidak terekspos terlalu banyak. Tidak seperti di negeri ini, lebih banyak pejabat bertelinga dan bermuka tebal yang kebal. Sanggup tetap berdiri dan merasa kokoh di posisinya sekalipun hujatan serta caci maki, baik secara langsung maupun melalui sindiran halus terus ditujukan kepadanya.

Padahal, Nabi Muhammad SAW sudah memperingatkan akan tanggung jawab seorang pemimpin. “Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga amanah yang dibebankan padanya. Dan, tidak beragama orang yang tidak bisa menepati janjinya.” (HR Ahmad bin Hambal). Sedangkan dihadist lainnya, Pemimpin yang dicintai Allah adalah pemimpin yang adil dan tidak zalim.

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan yang paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan, orang yang paling dibenci Allah dan sangat jauh dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR Turmudzi).

Semoga pada Pemilihan Kepala Daerah 9 Desember nanti, akan lahir sosok-sosok pejabat yang berintegritas tinggi. Pemimpin yang dapat berbuat lebih banyak untuk rakyat dan menepati janji serta tahu diri jika tidak mampu dengan sesegera memberi kesempatan kepada orang lain. Semoga Negeri kita tercinta akan lebih maju, kuat dan juga terhormat. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here