Tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan Israel ke Iran yang menyasar fasilitas nuklir dan pabrik rudal balistik. Insiden ini bukan hanya berdampak pada konflik politik, namun juga memicu reaksi hebat di pasar ekonomi global. Imbasnya, harga minyak melambung tinggi, harga emas meroket, dan pasar saham serta Bitcoin mengalami penurunan signifikan.
Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent mengalami lonjakan lebih dari 7% pada 13 Juni 2025, mencapai US$ 74,46 per barel, setelah menyentuh level tertinggi di US$ 78,50 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar tentang kemungkinan gangguan pasokan akibat ketegangan yang meningkat antara kedua negara. Minyak mentah West Texas Intermediate juga meningkat 7,5%, menembus harga US$ 73,15 per barel.
Sementara itu, pasar komoditas lainnya, khususnya logam berharga, turut merespons situasi tersebut. Harga emas dunia tercatat naik 1% menjadi US$ 3.417,59 per ons. Ini adalah level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Sejak awal minggu, harga emas telah meningkat lebih dari 3,2%. Dalam konteks domestik, harga emas batangan di Indonesia mencapai Rp 1,95 juta per gram, menunjukkan kenaikan harian sebesar Rp 23 ribu.
Ketegangan ini juga memperkuat posisi Dolar AS sebagai instrumen aman. Indeks dolar, yang mengukur nilai tukar terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,42% menjadi 98,33 poin. Uang investor beralih ke instrumen safe haven seperti emas dan dolar AS, mengingat situasi yang makin tidak menentu.
Bursa Saham dan Bitcoin Tertekan
Namun, konflik berkepanjangan ini tidak hanya berdampak pada pasar energi dan komoditas. Transformasi ke arah instrumen aman membuat Bitcoin dan pasar saham bergejolak. Harga Bitcoin mengalami penurunan drastis, turun di bawah US$ 105.000 di tengah likuidasi besar-besaran di pasar derivatif. Data Coinglass mencatat total likuidasi mencapai US$ 1,148 juta, dengan volume perdagangan Bitcoin menyentuh US$ 369 miliar. Ethereum dan XRP juga mengalami penurunan signifikan, masing-masing turun 9,5% dan 5,71%.
Bursa saham global yang biasanya dipandang sebagai barometer positif juga merasakan dampaknya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia ditutup melemah 0,53% menjadi 7.166,07, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi 7.191,12. Angka-angka ini menunjukkan reaksi negatif investor terhadap ketidakpastian yang meningkat.
Di tingkat internasional, bursa saham Asia-Pasifik mengikuti jejak IHSG. Nikkei 225 di Jepang turun 0,89%, sementara Kospi di Korea Selatan juga mengalami penurunan 0,87%. Di AS, Dow Jones dan S&P 500 juga dibuka dengan catatan merah, menunjukkan penurunan masing-masing 0,90% dan 0,74%.
Dampak Jangka Panjang
Dengan situasi di Timur Tengah yang semakin bergejolak, banyak analis memperingatkan tentang potensi dampak jangka panjang di pasar energi dan finansial. Peningkatan harga minyak dapat memicu inflasi global dan membebani perekonomian negara-negara konsumen, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi.
Para ekonom memprediksi bahwa ketidakpastian ini dapat berlanjut dan mempengaruhi pengambilan keputusan investasi di seluruh dunia. Meski saat ini investor cenderung lebih memilih aset yang lebih aman, perubahan politik dan militer di kawasan tersebut kemungkinan akan terus mempengaruhi pasar.
Dengan semua ketidakpastian ini, investor di seluruh dunia harus bersiap untuk menghadapi fluktuasi yang ekstrim. Kenaikan harga emas dan minyak mungkin menjadi pertanda dari perubahan yang lebih besar dalam arsitektur ekonomi global, yang dapat menjelma menjadi tantangan bagi banyak negara di depan.





