
Bank Dunia baru saja memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand untuk tahun 2025 sebesar 1,1 persen, dari sebelumnya sontak saja menjadi hanya 1,8 persen. Penurunan ini disebabkan oleh kondisi ekonomi yang melemah dan ketidakpastian global yang semakin meningkat. Dalam laporan "Global Economic Prospects," Bank Dunia juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,3 persen, angka terendah dalam 17 tahun terakhir dan merupakan sinyal kekhawatiran yang mendalam terhadap kesehatan ekonomi dunia.
Ketidakpastian ini berdampak signifikan terhadap pasar emerging dan ekonomi berkembang (EMDEs), termasuk Thailand. Aktivitas ekonomi di Thailand juga terganggu oleh faktor eksternal seperti bencana alam, yang semakin memperburuk prospek pertumbuhan. Bank Dunia mencatat bahwa meski Thailand memiliki potensi besar, tantangan global kini semakin kompleks.
Faktor Penyebab Penurunan Proyeksi
Menurut Wakil Presiden Senior dan Ekonom Utama Bank Dunia, Indermit Gill, salah satu penyebab utama penurunan proyeksi ini adalah ketegangan dalam perdagangan internasional. Konflik yang terjadi antara negara-negara besar, terutama yang menyangkut perdagangan, telah mengganggu kebijakan-kebijakan yang sebelumnya berhasil menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan global pasca-Perang Dunia II. Ini menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi Thailand, yang sangat bergantung pada ekspor, terpengaruh.
Bank Dunia juga memperingatkan bahwa ketidakpastian perkembangan di tingkat global dapat berlanjut jika kesepakatan perdagangan tidak tercapai antara negara-negara besar. Proyeksi baru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS untuk tahun 2025 juga mengalami penurunan, dari 2,3 persen menjadi 1,4 persen, sementara Zona Euro diprediksi hanya akan tumbuh sebesar 0,7 persen.
Implikasi Ekonomi yang Luas
Penurunan proyeksi pertumbuhan Thailand tentunya bukan hanya masalah domestik. Ekonomi Thailand sangat terkait dengan ekonomi global. Jika negara-negara besar seperti AS dan China tidak menemukan jalan keluar dari ketegangan perdagangan, dampaknya bisa juga merembet ke negara-negara tetangga.
Bank Dunia menegaskan bahwa jika sengketa perdagangan dapat diselesaikan dan tarif yang ada dikurangi drastis, pertumbuhan ekonomi global dapat meredakan tekanan, dengan penguatan sekitar 0,2 persen rata-rata selama 2025 dan 2026. Optimisme ini muncul dari harapan bahwa kesepakatan lama akan kembali terjalin, meskipun saat ini situasi di lapangan terlihat sangat tidak menentu.
Data Pertumbuhan Ekonomi Global
- Proyeksi Pertumbuhan Thailand 2025: Dari 2,9 persen menjadi 1,8 persen.
- Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2025: Dari 2,7 persen menjadi 2,3 persen.
- Proyeksi Pertumbuhan AS: Diturunkan dari 2,3 persen menjadi 1,4 persen.
- Proyeksi Pertumbuhan Zona Euro: Diturunkan dari 1,0 persen menjadi 0,7 persen.
Perspektif Masa Depan
Dalam konteks ini, penting untuk mencermati tanda-tanda pemulihan yang mungkin muncul. Ada harapan bahwa jika kesepakatan perdagangan berhasil dibentuk antara negara-negara utama, situasi ekonomi global dapat membaik. Namun demikian, semua pihak harus tetap waspada mengingat sifat konflik yang dinamis dan sering berubah.
Pemerintah Thailand perlu mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dan beradaptasi dengan realitas global yang semakin kompleks. Para pengamat ekonomi akan terus mengamati bagaimana langkah-langkah ini diterapkan di lapangan dan bagaimana respon pasar akan menjadi.
Ketidakpastian yang melanda global menjadi pengingat penting tentang kerentanan ekonomi dunia yang saling terkait. Ke depan, kolaborasi internasional menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif tidak hanya bagi Thailand tetapi juga bagi ekonomi global secara keseluruhan.





