Jeritan Terakhir Kapten Air India: Mayday, Kehilangan Tenaga, Pesawat Tak Bisa Terbang

Penyelidikan mendalam tengah dilakukan terkait insiden kecelakaan tragis pesawat Air India Boeing 787-8 Dreamliner yang jatuh hanya sesaat setelah lepas landas dari Bandara Ahmedabad pada Kamis, 12 Juni 2025. Penerbangan yang ditujukan ke London ini mengangkut banyak wisatawan yang berharap kembali ke tanah air mereka. Namun, harapan itu tergantikan oleh kekacauan dan tragedi saat pesawat mengalami kegagalan sistem.

Dalam detik-detik awal penerbangan, Kapten Sumeet Sabharwal, yang memiliki pengalaman terbang lebih dari 8.200 jam, mengeluarkan panggilan darurat. “Mayday… tidak ada daya dorong, kehilangan tenaga, tidak dapat mengangkat,” teriaknya melalui radio kepada petugas lalu lintas udara. Pernyataan ini menunjukkan betapa mendesaknya situasi yang dihadapi.

Rekaman video dari kecelakaan tersebut menunjukkan pesawat kehilangan ketinggian dan kecepatan dengan cepat. Selama penerbangan, kokpit dipenuhi dengan alarm yang menandakan situasi darurat. Dalam waktu singkat, pesawat jatuh sekitar 1,5 mil dari ujung landasan, menghantam kawasan padat penduduk di Meghaninagar, India Barat Laut. Ledakan hebat terdengar, menimbulkan puing-puing dan api membubung hingga ratusan kaki ke udara, mengubah lingkungan rumah menjadi seperti medan perang.

Kecelakaan ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebabnya. Dua teori utama mulai mengemuka. Yang pertama adalah kemungkinan burung tersedot ke dalam mesin, yang dapat merusak kedua mesin secara bersamaan. Teori kedua mempertanyakan pengaturan flap, komponen penting pada sayap yang berfungsi untuk meningkatkan daya angkat saat lepas landas. Kapten Saurabh Bhatnagar, mantan pilot senior, berpendapat bahwa tabrakan burung dapat jadi penyebab utama, mirip dengan insiden yang terjadi pada Jeju Air bulan lalu.

Namun, beberapa analis menyatakan bahwa tidak terlihat tanda-tanda asap dari mesin dalam rekaman tersebut, yang biasanya menjadi indikator adanya tabrakan burung. Marco Chan dari Buckinghamshire New University menyatakan bahwa flap pesawat mungkin tidak dipasang dengan benar, suatu kesalahan fatal yang dapat menyebabkan hilangnya daya angkat secara drastis.

Di sisi lain, Terry Tozer, seorang mantan pilot dan penulis buku mengenai kecelakaan pesawat, berpendapat bahwa kerusakan pada sayap juga dapat menjadi penyebab yang logis, mengingat cara pesawat menukik tajam ke bawah sebelum jatuh.

Saat kecelakaan terjadi, pesawat diketahui membawa 80 hingga 90 ton bahan bakar untuk perjalanan jauh ke London. Ini berkontribusi pada dampak ledakan yang sangat mengerikan saat pesawat menyentuh permukaan. Puing-puing pesawat yang berukuran besar juga terlihat berserakan di sekitar, sementara beberapa bangunan di dekat lokasi jatuhnya pesawat terbakar hebat.

Sejumlah penumpang, yang terdiri dari wisatawan dan karyawan, dipastikan berada di atas pesawat saat kecelakaan terjadi. Dalam beberapa jam setelah peristiwa tersebut, suasana duka menyelimuti area sekitar. Banyak anggota keluarga yang menunggu informasi di rumah sakit, merasakan kepanikan dan ketidakpastian yang menghantui mereka.

Regulasi penerbangan yang ketat dan pengawasan yang ketat di industri penerbangan diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Pada saat yang sama, tragedi ini mengingatkan kita akan perlunya perhatian lebih pada kondisi keselamatan penerbangan, terutama di daerah yang memiliki riwayat tinggi tabrakan burung.

Dampak dari kecelakaan ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terlibat langsung, tetapi juga seluruh komunitas yang melihat insiden ini terjadi. Dengan penyelidikan yang sedang berlangsung, harapan akan terkuaknya penyebab pasti dari kecelakaan ini menjadi penting untuk menggali pelajaran yang dapat diambil demi keselamatan penerbangan di masa mendatang.

Berita Terkait

Back to top button