
Iran mengklaim bahwa sistem pertahanan udaranya di Tabriz berhasil menembak jatuh jet tempur siluman F-35 Israel, yang merupakan yang keempat kalinya dalam konflik yang berlangsung antara kedua negara. Penembakan ini terjadi pada hari Senin dan diungkapkan oleh media pemerintah Iran, Nour, yang mengutip pejabat terkait. Menurut laporan tersebut, kemampuan pertahanan udara Iran dalam kondisi siap untuk menanggapi agresi lebih lanjut dari Israel.
Kepala Angkatan Darat Iran juga sebelumnya mengonfirmasi bahwa pada 14 Juni, dua pilot dari tiga jet tempur F-35 Israel yang ditembak jatuh telah ditangkap. Jika klaim ini terkonfirmasi, maka Iran akan menjadi negara pertama yang berhasil menembak jatuh jet tempur generasi kelima yang diproduksi oleh Amerika Serikat. Namun, respons dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya penembakan tersebut dan menganggap berita tentang penembakan sebelumnya sebagai “berita palsu”.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik pedas terhadap Perdana Menteri Israel Bentley Netanyahu, menyebutnya sebagai “penjahat perang.” Dalam komentarnya, Araghchi mengatakan bahwa Israel terlibat manipulasi politik global, dan mengklaim bahwa agresi militer yang dilakukan terhadap Iran akan berlanjut jika tidak dihentikan. Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang meningkat antara kedua negara dan ekspektasi akan lebih banyak konflik di masa depan.
Sementara itu, kritik tajam juga datang dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dalam percakapan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Erdogan menuduh Israel memiliki motif yang licik dalam serangan ke Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan keprihatinan yang mendalam atas eskalasi konflik yang dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi kawasan.
Seiring meningkatnya ketegangan militer, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan imbauan bagi penduduk Tel Aviv untuk segera meninggalkan kota tersebut, mengindikasikan akan adanya serangan besar yang akan dilakukan. Dalam beberapa hari terakhir, sirene serangan udara telah dibunyikan di berbagai kota Israel sebagai respons terhadap serangan rudal yang semakin meningkat dari Iran.
Harapan untuk mencapai diplomasi di tengah konflik ini tidak kunjung muncul. Dikhawatirkan bahwa tindakan balasan yang dilakukan oleh kedua negara dapat semakin memperburuk keadaan. Sejumlah analisis menunjukkan bahwa pertikaian ini berpotensi untuk mengarah pada konflik lebih serius yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan tersebut.
Dengan situasi yang semakin kompleks, dunia mengawasi perkembangan terbaru antara Iran dan Israel. Tindakan selanjutnya oleh kedua belah pihak menjadi sangat penting, terutama dalam upaya untuk menghindari eskalasi ke dalam perang terbuka.





