Ketegangan antara Israel dan Iran memanas, menimbulkan spekulasi mengenai peran Amerika Serikat (AS) dalam kemungkinan konflik yang lebih besar. Terutama setelah pernyataan Presiden Donald Trump yang menyiratkan adanya ambiguitas dalam dukungan AS terhadap Israel. Meski awalnya Trump berkomitmen pada jalur diplomatik terkait program nuklir Iran, situasi berubah drastis setelah serangan Israel ke Iran.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan komitmennya terhadap resolusi diplomatik. Namun, tidak lama setelah itu, ia mengumumkan telah memberikan batas waktu 60 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan, yang sudah berakhir. Pada kesempatan lain, Trump menyatakan bahwa Israel dan Iran seharusnya melakukan negosiasi, sekaligus menunjukkan kesiapan untuk membantu. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah AS hanya menjadi penonton atau memberikan lampu hijau kepada Israel untuk bertindak.
Trump membantah keterlibatan langsung AS dalam serangan tersebut, tetapi menurut Ali Ansari, profesor sejarah Iran di Universitas St Andrews, sikap AS bisa dianggap sebagai “mengedipkan mata” kepada Israel. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun AS tidak terlibat langsung, mereka mungkin sudah menyetujui serangan tersebut.
Kekhawatiran Israel terhadap Diplomasi yang Berhasil
Menurut Kelsey Davenport dari Arms Control Association, tindakannya menunjukkan bahwa Trump menilai jalur diplomatik tetap terbuka. Meski demikian, di sisi lain, Israel khawatir diplomasi bisa menghasilkan kesepakatan yang merugikan kepentingannya. Richard Nephew dari Universitas Columbia menambahkan, Israel resah dengan konsistensi Trump dalam pencarian kesepakatan, yang bisa membatasi kemampuan mereka dalam mengambil tindakan terhadap Iran.
Meskipun Israel baru saja menyerang fasilitas nuklir di Natanz, ancaman terhadap fasilitas bawah tanah di Fordow masih tetap ada. Davenport mencatat bahwa jika Israel ingin menyerang tujuan yang lebih sulit diakses seperti Fordow, mereka kemungkinan akan memerlukan dukungan militer dari AS, termasuk akses ke bom penghancur bunker.
Perluasan Keterlibatan AS dalam Konflik
Trump mungkin merasa tergoda untuk mengintervensi lebih jauh jika serangan awal Israel terlihat sukses. Ansari mengemukakan bahwa tekanan militer dari AS bisa memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Namun, intervensi AS tetap memiliki risiko. Senator Tim Kaine telah mengajukan resolusi yang mengharuskan Kongres memberikan persetujuan untuk setiap aksi militer terhadap Iran, demi mencegah keterlibatan dalam konflik yang lebih luas.
Dampak Jangka Panjang dari Jalan Militer
Sejarah menunjukkan bahwa solusi militer bukan jaminan untuk mengatasi proliferasi senjata nuklir. JCPOA yang ditandatangani pada 2015 merupakan langkah penting dalam membatasi program nuklir Iran, tetapi keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian itu pada 2018 memicu ketegangan yang lebih besar saat ini. Davenport menyatakan bahwa mengganti rezim di Iran bukanlah solusi efektif, karena ketidakpastian politik pasca-pergantian bisa meningkatkan risiko pengembangan senjata nuklir.
Meskipun Trump memberi sinyal mengenai keterlibatan AS yang kompleks dalam situasi ini, pernyataan yang tidak konsisten ini menunjukkan bahwa potensi ketegangan militer masih ada. Di tengah ancaman yang semakin besar, penting untuk terus menjajaki jalur diplomatik sebagai cara paling aman untuk meredakan ketegangan antara dua negara tersebut.
Dengan situasi yang terus berkembang, dukungan dan tindakan AS akan terus menjadi perhatian, baik bagi Israel maupun Iran, di tengah provokasi dan ambiguitas yang kini menjadi ciri khas kebijakan luar negeri AS di kawasan ini.





