Menteri Luar Negeri Iran, Sayed Abbas Araghchi, menyampaikan kecaman tajam terhadap serangan yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Iran dalam sebuah pidato di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, pada tanggal 20 Juni 2025. Ia menyebut serangan tersebut sebagai “agresi brutal yang sewenang-wenang dan kriminal,” meminta masyarakat internasional untuk mengecam tindakan Israel yang dilihatnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang jelas.
Dalam pernyataannya, Araghchi menunjukkan bahwa serangan Israel tidak hanya mengarah pada infrastruktur militer tetapi juga menargetkan permukiman sipil, rumah sakit, dan pusat kesehatan, bahkan Kementerian Luar Negeri Iran. Ia mengungkapkan bahwa ratusan staf kementeriannya mengalami luka atau bahkan kehilangan nyawa akibat serangan yang terjadi. “Serangan ini merupakan kejahatan perang serius dan berpotensi menyebabkan bencana lingkungan dan kesehatan,” tegasnya.
Araghchi juga menekankan bahwa serangan tersebut melanggar Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan militer terhadap negara lain. Ia menambahkan bahwa Iran berhak mempertahankan diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB. “Iran sedang membela diri terhadap serangan biadab ini,” katanya, menegaskan hak negara tersebut dalam menanggapi agresi yang diterimanya.
Dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, Araghchi menyerukan tindakan dari masyarakat internasional dan mendesak agar sistem internasional yang dibangun selama puluhan tahun dapat digunakan untuk melindungi hak asasi manusia. Ia mengatakan, “Jika kita tidak mampu menggunakan sistem internasional ini di saat-saat krisis, maka kita sedang menyaksikan kegagalan kolektif dari tatanan dunia pasca-perang dunia kedua.”
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB, Daniel Meron, menyampaikan protes keras atas pidato Menlu Iran tersebut, menilai bahwa Iran seharusnya tidak diberikan platform sebelum menyelesaikan negosiasi dengan negara-negara Eropa. Meron mendesak mitra Eropa untuk mengambil sikap tegas terhadap Iran, termasuk kebijakan yang berpotensi membatalkan program nuklir Iran, menghentikan pengembangan rudal balistik, serta mengakhiri intervensi di wilayah regional.
Kecaman Araghchi terhadap serangan Israel dan respons kuat dari perwakilan Israel mencerminkan escalasi ketegangan antara kedua negara yang kini memasuki fase diplomatik yang lebih konfrontatif. Dalam konteks yang lebih luas, ketegangan ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas regional yang lebih luas.
Kekhawatiran mengenai target serangan yang mencakup fasilitas nuklir sipil Iran yang diawasi oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga disampaikan oleh Araghchi. Hal ini mengindikasikan adanya risiko terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat global yang lebih luas, mengingat pentingnya perlindungan fasilitas nuklir dari konflik bersenjata.
Sebagai langkah akhir, Araghchi mengingatkan bahwa dunia saat ini berada pada titik kritis, dan tanggung jawab untuk menciptakan sebuah sistem yang melindungi hak asasi manusia serta menjamin martabat bangsa-bangsa harus diambil oleh komunitas internasional. Hal ini menegaskan urgensi dalam menangani isu-isu yang mendasar dalam hubungan internasional, terutama dalam konflik yang berbuntut panjang seperti antara Iran dan Israel.





