
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah melancarkan serangan besar terhadap Iran, menggunakan enam bom Bunker Buster GBU-57 dan 30 rudal Tomahawk untuk menyerang tiga situs nuklir utama negara tersebut. Serangan ini dipusatkan di fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan, yang diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump.
Dalam serangan ini, bom Bunker Buster dengan berat masing-masing 15 ton dijatuhkan oleh pesawat pengebom siluman B-2. Menurut keterangan Sean Hannity, pembawa acara di Fox News, Fordow memiliki dua pintu masuk dan satu poros ventilasi yang berfungsi sebagai titik akses bagi bom-bom besar tersebut. Meskipun serangan ini terdengar dahsyat, laporan awal menunjukkan bahwa tidak ada bukti kerusakan signifikan di situs Fordow.
Selain serangan terhadap Fordow, dua fasilitas nuklir lainnya, Natanz dan Isfahan, juga menjadi sasaran. 30 rudal Tomahawk diluncurkan dari kapal selam AS dalam operasi tersebut, meskipun Pentagon belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penggunaan misil ini. Informasi ini disampaikan oleh Hannity dan ditindaklanjuti oleh berbagai media internasional.
Trump menyatakan melalui akun media sosialnya, bahwa serangan ini merupakan keberhasilan militer yang luar biasa. Ia menyatakan, “Semua pesawat sekarang berada di luar wilayah udara Iran,” menegaskan keberhasilan misi ini tanpa kehilangan satu pesawat pun. Ungkapan ini mencerminkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap kekuatan militer AS.
Di sisi lain, sistem pertahanan udara Iran dilaporkan sempat mencegat beberapa objek yang diduga sebagai serangan udara di kawasan Qom, tidak jauh dari ibu kota Teheran. Namun, akun terverifikasi @IranReply mencatat bahwa hingga saat ini, tidak ada bukti konkret mengenai kerusakan besar atau ledakan signifikan yang terjadi di Fordow.
Serangan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendelegitimasi program nuklir Iran, yang oleh Teheran disebut sebagai program damai. Pemerintah Iran mengutuk aksi militer ini sebagai serangan perang. Warga Iran yang sudah menghadapi dampak dari serangan Israel sebelumnya kini kembali merasa terancam. Menurut laporan Kementerian Kesehatan Iran, sebelumnya serangan Israel telah menewaskan sekitar 430 orang dan melukai lebih dari 3.500 warga sipil.
Di tengah ketegangan ini, pejabat Israel mengumumkan bahwa mereka juga terlibat dalam operasi yang menargetkan Iran dengan nama sandi Operasi Rising Lion. Operasi ini dipimpin pada 13 Juni 2025 dan menekankan misi untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir. Dengan langkah AS yang kini bersinergi dengan Israel, ketegangan di kawasan ini semakin meningkat.
Operasi militer ini tidak hanya memengaruhi situasi politik antara AS dan Iran, namun juga dapat memperburuk hubungan global. Langkah agresif ini dikhawatirkan akan memicu reaksi dari negara-negara lain serta memengaruhi stabilitas di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Teheran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak dalam operasi yang disebut Operasi True Promise III.
Dengan meningkatnya ketegangan ini, penting bagi komunitas internasional untuk mencermati perkembangan lebih lanjut. Situasi dapat berubah dengan cepat, dan potensi untuk escalasi militer yang lebih besar masih ada, mengingat reaksi Iran yang kemungkinan akan terus berlanjut terhadap tindakan AS dan Israel.





