
Perang antara Israel dan Iran yang sedang berlangsung kini mulai mempengaruhi sektor pariwisata di Thailand. Menurut data terbaru, lima pasar utama dari kawasan Timur Tengah dapat mengalami penurunan kunjungan hingga 50 persen. Penutupan ruang udara dan penyesuaian rute penerbangan menjadi beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan ini.
Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Thapanee Kiatphaibool, dalam keterangannya menyatakan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah memiliki dampak menyeluruh pada perjalanan udara di wilayah tersebut. "Banyak maskapai penerbangan, termasuk Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, telah menyesuaikan rute mereka untuk menghindari zona konflik akibat penutupan ruang udara," ujarnya.
Sejak awal perang, Mahan Air, satu-satunya maskapai asal Iran yang terbang ke Thailand, telah menghentikan penerbangannya ke Bangkok dan Phuket. Hal ini menyebabkan pasar wisata Iran dan negara-negara sekitarnya menghilang dalam periode ini. Tercatat, lima negara—Iran, Irak, Yordania, Lebanon, dan Suriah—menyumbang sekitar 7 persen dari total kunjungan wisatawan dari Timur Tengah ke Thailand.
Dalam bulan Juni 2024 lalu, jumlah wisatawan dari lima negara tersebut mencapai lebih dari 100 ribu orang. Namun, akibat ketegangan yang meningkat, kedatangan diperkirakan hanya berkisar antara 3.500 hingga 5.000 wisatawan. "Banyak wisatawan yang menunda perjalanan selama festival Eid al-Adha, yang sebelumnya menjadi puncak kunjungan," tambah Thapanee.
Dampak pada Sektor Perhotelan
Sektor perhotelan di kawasan-kawasan utama seperti Bangkok, Pattaya, dan Phuket merasakan dampak yang signifikan. Hotel-hotel di daerah-daerah tersebut diperkirakan akan mengalami tekanan besar dalam waktu dekat. Jika situasi membaik dalam waktu cepat, diperkirakan arus wisatawan akan mulai pulih pada bulan Juli. Beberapa maskapai, seperti Royal Jordanian Airlines, juga berencana untuk membuka rute baru ke Thailand, menambah harapan untuk pemulihan.
Namun, tingkat pemulihan ini sangat bergantung pada kerusakan yang ditimbulkan oleh perang. Keberlangsungan sektor pariwisata, baik jangka pendek maupun jangka panjang, bergantung pada persepsi keamanan yang dimiliki oleh wisatawan. Thapanee menekankan bahwa selain lima negara tersebut, dampak jangka panjang juga dapat merambah ke negara-negara lain di Timur Tengah. "Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, yang menyumbang hingga 80 persen dari pasar pariwisata Timur Tengah, perlu diperhatikan," tuturnya.
Target Pariwisata Thailand
Meski mengalami tantangan, TAT tetap optimis dan menargetkan untuk menarik 1,06 juta pengunjung dari Timur Tengah pada tahun ini, meningkat 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Diharapkan, pendapatan yang dihasilkan dari segmen ini mencapai sekitar 86 miliar baht. Namun, pemulihan sektor pariwisata Thailand sangat bergantung pada situasi geopolitik yang berkembang dan langkah-langkah strategis dalam menjaga keamanan penerbangan.
Dengan adanya ancaman yang berasal dari perang Israel-Iran, sektor pariwisata di Thailand tidak hanya menghadapi tantangan dari segi pengunjung, tetapi juga reputasi dan daya tarik sebagai destinasi wisata yang aman. Penyesuaian rute penerbangan, serta strategi pemasaran yang tepat, menjadi kunci untuk mengatasi dampak negatif ini dalam jangka pendek.
Tantangan yang dihadapi Thailand dalam menghadapi krisis ini menunjukkan betapa rentannya industri pariwisata terhadap faktor eksternal. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, maskapai penerbangan, dan pelaku industri untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan dan memperkuat ketahanan sektor pariwisata di masa depan.





