Rusia telah mengerahkan sebuah kapal selam bersama sejumlah kapal perang untuk mengawal sebuah kapal tanker minyak yang diburu oleh Amerika Serikat. Kapal tanker tersebut dikenal dengan nama Marinera dan sebelumnya bernama Bella 1, yang menjadi target pengejaran AS sejak Desember 2025 di perairan lepas pantai Venezuela.
Marinera dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena terlibat dalam perdagangan minyak terlarang, termasuk minyak Iran. Kapal ini sempat berusaha mengelabui penegak hukum AS dengan mengganti bendera dan namanya menjadi Rusia saat berada di perairan internasional. Awak kapal bahkan melukis bendera Rusia di lambung kapal dan mendaftarkan kapal di bawah registri Rusia.
Langkah tersebut tidak menjamin perlindungan hukum penuh, namun secara signifikan menyulitkan intervensi AS di laut internasional. Upaya ini menunjukkan adanya eskalasi ketegangan antara Washington dan Moskow terkait penegakan sanksi minyak terhadap Venezuela. Rusia menilai tindakan AS agresif dan sudah mengajukan protes diplomatik atas pengejaran kapal ini.
Rusia menempatkan kapal selam dan kapal perang lain mengawal Marinera di Samudra Atlantik, ratusan mil dari pantai Eropa. Kehadiran kapal perang Rusia di zona tersebut menegaskan dukungan Moskow terhadap kapal tanker yang terkena sanksi dan memperumit operasi penegakan hukum AS. Amerika Serikat sendiri berencana mencegat kapal tersebut, meski belum jelas bagaimana reaksi berikutnya setelah kehadiran armada Rusia.
Pengejaran ini merupakan bagian dari kampanye tekanan AS terhadap pemerintahan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Maduro bahkan baru-baru ini ditangkap oleh pasukan AS, dan dua kapal tanker minyak lainnya milik Venezuela juga sudah disita bulan lalu. Kebijakan ini bertujuan memutus aliran pendapatan yang diyakini mendukung rezim yang tidak diakui oleh AS.
Penggunaan bendera Rusia oleh Marinera merupakan strategi untuk menghindari sanksi dan operasi penegakan hukum AS. Sebelumnya, kapal ini menggunakan bendera Panama dan terlibat dalam perdagangan minyak Iran yang dilarang oleh otoritas AS. Perubahan bendera tersebut memicu keruwetan diplomatik mengingat hubungan AS dan Rusia yang sudah tegang.
Blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat merupakan bagian dari operasi penegakan sanksi minyak di kawasan Karibia. Operasi ini menargetkan kapal-kapal tanker yang mencurigakan dan dianggap mengangkut minyak ilegal dari Venezuela dan sekutunya. Keputusan Rusia mengawal kapal tanker bernama Marinera menambah kompleksitas situasi di wilayah tersebut.
Berikut fakta penting terkait insiden ini:
1. Kapal tanker marinera sebelumnya dikenal sebagai Bella 1 dan dikenai sanksi oleh AS.
2. Kapal ini mengganti nama dan bendera menjadi Rusia saat berada di perairan internasional.
3. Rusia mengerahkan kapal selam dan kapal perang untuk mengawal Marinera.
4. Amerika Serikat mengejar kapal ini sebagai bagian dari sanksi terhadap ekspor minyak Venezuela.
5. Penangkapan kapal sejalan dengan penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS.
6. AS telah menyita dua kapal tanker lain milik Venezuela pada bulan sebelumnya.
Kehadiran kapal perang Rusia yang mengawal Marinera menjadi salah satu indikator meningkatnya ketegangan antara dua kekuatan besar dunia ini. Rusia menolak intervensi AS di laut internasional dan menyatakan protes atas tindakan pengejaran tersebut. Sementara itu, Amerika Serikat berupaya memperkuat penegakan sanksi minyak dan memblokir jalur perdagangan yang dianggap ilegal.
Situasi ini dapat berdampak signifikan pada stabilitas geopolitik di kawasan Atlantik dan Karibia. Keberadaan kapal selam Rusia di wilayah tersebut menjadi sinyal keras bagi Amerika Serikat agar mempertimbangkan kembali operasi penegakan hukumnya. Konflik diplomatik yang muncul menunjukkan betapa sengitnya persaingan pengaruh di arena internasional, khususnya terkait sumber daya energi utama seperti minyak.





