Nadiem Makarim Rinci Skandal Laptop Rp9,9 Triliun ke Deddy Corbuzier

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim, kembali menjadi sorotan publik terkait skandal pengadaan laptop Chromebook senilai Rp9,9 triliun. Isu ini mendapat perhatian luas setelah Deddy Corbuzier mengundang Nadiem untuk memberikan klarifikasi melalui kanal YouTube-nya pada Rabu, 11 Juni 2025. Dalam perbincangan tersebut, Nadiem menjelaskan rincian penggunaan anggaran yang dipertanyakan.

Pengadaan laptop yang menjadi sorotan ini terindikasi adanya dugaan korupsi selama periode Nadiem menjabat. Deddy, yang mengaku kaget dengan kabar tersebut, langsung menanyakan tentang rincian anggaran yang sangat fantastis ini. “Apa yang terjadi sebenarnya? Karena ada dugaan korupsi di Kementerian Pendidikan saat anda menjabat,” tanya Deddy.

Nadiem Makarim segera memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa angka Rp9,9 triliun tidak sepenuhnya digunakan untuk pembelian laptop. Ia menyatakan, “Rp9,9 triliun adalah total pengadaan semua alat TIK, jadi bukan hanya laptop.” Dengan tegas, mantan CEO Gojek itu membantah bahwa anggaran tersebut hanya untuk satu produk.

Deddy menyoroti harga satu unit laptop yang disebut-sebut mencapai Rp10 juta. Menanggapi hal tersebut, Nadiem menjelaskan bahwa harga rata-rata laptop yang dibeli Kemendikbudristek adalah sekitar Rp6 juta. Ia menyebutkan bahwa mereka membeli sekira 1,1 juta unit laptop dengan total biaya sekitar Rp7 triliun dari anggaran tersebut.

Terkait proses pengadaan, Nadiem menekankan bahwa kementeriannya tidak memiliki kewenangan dalam penentuan harga. Pembelian dilakukan melalui e-catalogue Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), yang bertugas untuk memastikan transparansi dan efisiensi pengadaan barang pemerintah. “Ini artinya, Kemendikbud tidak punya kewenangan sama sekali dalam penentuan harga,” tegasnya.

Selain laptop, Nadiem juga memaparkan bahwa pengadaan termasuk modem Wi-Fi dan proyektor untuk mendukung proses belajar mengajar. Ia merasa bingung mengapa kasus ini diusut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Mas kenal saya. Ayah saya komite etika di KPK dulunya, ibu saya pendiri Bung Hatta Anti-Corruption Watch. Saya lahir dan dibesarkan di keluarga anti korupsi,” ujar Nadiem, menyatakan ketidakpuasannya dengan tuduhan yang mengarah kepadanya.

Nadiem menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya penyelesaian masalah ini jika benar ada temuan janggal dalam pengadaan tersebut. “Kalaupun ada temuan apapun dalam organisasi saya, saya akan bantu,” ungkapnya. Sikap yang ditunjukkan Nadiem menunjukkan keinginannya untuk berkontribusi pada transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran kementerian.

Kekhawatiran publik mengenai skandal ini semakin membara seiring dengan banyaknya berita yang beredar. Namun, Nadiem berusaha untuk memberi klarifikasi dan menjelaskan bahwa anggaran besar tersebut tidak hanya untuk satu item saja, melainkan untuk berbagai peralatan yang mendukung pendidikan.

Deddy Corbuzier juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam hal penggunaan anggaran negara untuk menghindari asumsi negatif di masyarakat. Dialog ini memberi kesempatan bagi Nadiem untuk berbagi pandangannya serta membantah rumor yang beredar, sekaligus membuka kesempatan bagi publik untuk lebih memahami konteks di balik angka besar yang disebut-sebut sebelumnya.

Sebagai warga negara yang peduli terhadap transparansi anggaran negara, langkah Nadiem Makarim untuk melibatkan publik dalam pembicaraan ini bisa menjadi langkah positif. Ini menunjukkan bahwa keterbukaan dalam pemerintahan, terutama di sektor pendidikan, adalah hal yang vital dalam membangun kepercayaan masyarakat. Diskusi dan klarifikasi dari Nadiem di kanal Deddy Corbuzier dapat menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin lainnya.

Berita Terkait

Back to top button