Pemprov Bali dan DKI Jakarta Sepakat Jalankan Proyek Subway di Bali

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, melakukan kunjungan ke Bali pada Jumat (13/6) untuk menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam proyek subway. Pertemuan ini berlangsung di Rumah Jabatan Jayasabha, Denpasar, dan dihadiri oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam pengembangan sistem perkeretaapian modern di Bali.

Rano Karno menekankan bahwa proyek subway tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia menawarkan bantuan teknis melalui pengalaman Jakarta dalam membangun dan mengelola sistem MRT (Mass Rapid Transit). "Kami memiliki kapabilitas dalam aspek perencanaan, pembangunan, operasional, dan pengelolaan keuangan transportasi berbasis rel," ujarnya.

Proses Pembangunan yang Panjang

Rano Karno menjelaskan bahwa proses pembangunan MRT di Jakarta saat ini sudah memasuki fase kedua, yang menargetkan jalur dari Bundaran HI hingga Kota Tua dan Ancol dengan panjang 25 kilometer, ditargetkan rampung pada tahun 2029. Ia mencatat bahwa pembangunan subway di Bali kemungkinan akan lebih kompleks dan memerlukan biaya yang lebih besar.

“Apalagi mengingat Bali memiliki banyak pertimbangan adat dan istiadat. Pembangunan ini tidak bisa dilakukan sembarangan,” tandasnya. Menurut Rano, pekerjaan di bawah tanah lebih rumit, membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan pembangunan di atas tanah.

Kebutuhan Investasi Besar

Pengembangan subway di Bali dipandang tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan keuangan yang substansial. Rano menyatakan bahwa Bali perlu menurunkan anggaran daerah untuk pendanaan perencanaan dan desain proyek. Namun, DKI Jakarta akan berfungsi sebagai jembatan dalam mencari investor tambahan untuk proyek tersebut.

Dalam konteks ini, Rano menyebutkan adanya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) sekitar Rp 4,8 triliun dari APBD DKI Jakarta sebagai sinyal bahwa Pemprov Jakarta siap membantu. "Kita harus mencari investor lagi. Sebagai bridging, diperlukan anggaran untuk perencanaan dan desain," jelasnya.

Kerja Sama Dalam Merancang Desain

Gubernur Wayan Koster juga menyambut baik inisiatif ini. Ia menyadari bahwa DKI Jakarta memiliki pengalaman dalam bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pembangunan MRT. "Kami berharap DKI Jakarta dapat membantu Bali dalam menggaet pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan MRT Jakarta untuk proyek subway di Bali," ujarnya.

Koster menjelaskan pentingnya berbagi pengalaman dalam merancang dan mendesain proyek ini. "Saya berharap kerja sama antara pemprov DKI Jakarta dan Provinsi Bali dapat terwujud dalam beberapa tahun ke depan," ungkapnya.

Persiapan yang Diperlukan untuk Proyek Subway

Proyek subway memerlukan tim yang berkualitas untuk merencanakan semua aspek, termasuk desain yang cermat. Rano Karno mengingatkan bahwa proses perencanaan bisa memakan waktu hingga dua tahun, dan anggaran yang cukup harus disediakan. “MRT memerlukan perencanaan yang mendalam agar bisa berjalan dengan baik,” tutur Rano.

Rano menegaskan bahwa dukungan dari Pemprov DKI dan upaya kolaboratif antara kedua provinsi sangat penting bagi keberhasilan proyek ini. “Dengan kerja sama yang baik, kita dapat menemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan transportasi yang semakin berkembang di Bali,” tutupnya.

Melalui sinergi ini, Pemprov Bali dan DKI Jakarta berkomitmen untuk memberikan solusi transportasi yang lebih baik, serta mengintegrasikan kekayaan budaya Bali dalam pengembangan infrastruktur modern. Wong DKI Jakarta dan Bali berharap dapat menemukan langkah konkret agar proyek ini bisa segera diwujudkan demi kesejahteraan masyarakat.

Berita Terkait

Back to top button