BNPB Lapor: Banjir dan Karhutla Melanda 7 Provinsi, Ribuan Warga Terdampak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa bencana banjir dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) telah mengakibatkan dampak signifikan di tujuh provinsi di Indonesia. Laporan yang diterima dari berbagai daerah menunjukkan hujan dengan intensitas tinggi sebagai penyebab utama banjir, sementara karhutla terjadi di beberapa lokasi akibat faktor cuaca dan pengelolaan lahan yang tidak optimal.

Di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, banjir melanda pada Jumat, 13 Juni 2025. Hujan deras menyebabkan aliran sungai meluap dan menggenangi dua desa di Kecamatan Obi Selatan. Dalam peristiwa tersebut, satu orang dilaporkan tewas dan sekitar 70 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Tingginya muka air diperkirakan antara 40 hingga 70 cm, dan saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih melakukan pendataan.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. BNPB mencatat pada 10 Juni 2025, enam desa di satu kecamatan mengalami banjir yang mempengaruhi 2.301 KK atau sekitar 6.946 jiwa. Kerugian material termasuk 1.212 rumah serta fasilitas pendidikan dan kesehatan yang mengalami kerusakan. Data yang ada menunjukkan tinggi muka air pada saat kejadian berkisar antara 50 hingga 103 cm.

Banjir juga mempengaruhi Kabupaten Sinjai di Provinsi Sulawesi Selatan pada 12 Juni lalu. Meskipun banjir surut cepat, 60 KK yang terdampak mengalami kerugian material termasuk kerusakan pada tiga fasilitas pendidikan dan sembilan titik jalan. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Selanjutnya, di Nusa Tenggara Timur, banjir melanda 12 desa di Kabupaten Malaka pada tanggal yang sama. Data awal menujukkan sekitar 200 KK atau 610 jiwa terpaksa mengungsi akibat meningkatnya volume air sungai akibat hujan lebat.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Selain banjir, bencana kebakaran hutan dan lahan juga terjadi. BNPB mencatat aktivitas karhutla di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, pada 12 Juni. Setelah dilakukan pemadaman, petugas dari BPBD memastikan api sudah bisa dikendalikan. Meskipun luasan wilayah terdampak belum ditentukan, dua desa menjadi lokasi titik api.

Kawasan Bener Meriah di Aceh tidak luput dari bencana ini. Di sini, api juga berhasil dipadamkan setelah membakar dua hektar lahan. BPBD masih menyelidiki penyebab karhutla yang terjadi pada Jumat, 13 Juni.

Pergerakan Tanah

Fenomena pergerakan tanah juga dilaporkan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada bulan April lalu. Dampak hujan lebat ditambah dengan kondisi drainase yang buruk menyebabkan beberapa kampung terancam isolasi. Hingga kini, BPBD melaporkan 81 KK atau 254 jiwa terdampak, dengan 75 KK mengungsi.

BNPB mengingatkan kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada, terutama memasuki musim peralihan yang berpotensi memicu cuaca ekstrem. Upaya pencegahan dinilai lebih efisien ketimbang respons pasca bencana. Beberapa wilayah seperti Aceh, Riau, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih berada pada risiko tinggi kebakaran hutan, mengingat kondisi tanah yang sangat kering.

Data terbaru menunjukkan bahwa kerugian akibat bencana alam ini tidak hanya berdampak pada sektor infrastruktur, tetapi juga pada sektor pertanian. BNPB menyatakan bahwa 720 hektar lahan pertanian di Kalimantan Tengah telah terpengaruh oleh banjir, menambah daftar panjang dampak yang harus dihadapi masyarakat.

Ketika cuaca ekstrem melanda, penting bagi setiap bagian masyarakat untuk saling mendukung. Koordinasi antara BPBD dan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan dalam penanggulangan bencana di seluruh Indonesia. Pemerintah terus berupaya memberikan bantuan bagi para korban dan mengimplementasikan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah bencana serupa di masa depan.

Berita Terkait

Back to top button