Anggota TNI Angkatan Darat, Serka Seger, menjadi korban pembunuhan oleh kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Yahukimo pada Senin, 16 Juni 2025. Insiden ini terjadi di Jalan Seradala KM 4, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, yang bukan hanya merenggut nyawa seorang prajurit, tetapi juga menewaskan dua warga sipil yang diserang secara brutal.
Kepala Operasional Damai Cartenz, Brigadir Jenderal Polisi Faizal Ramadhani, mengonfirmasi bahwa dua pria yang menjadi korban sipil adalah Udin dan Edi. Udin, yang berasal dari Sidrap, ditemukan tewas dengan luka bacok yang menggenaskan, sedangkan Edi, asal Banyuwangi, mengalami cedera kritis akibat dua anak panah yang tertancap di kepala serta luka bacok di wajah. Kejadian ini menunjukkan betapa meluasnya dampak kekerasan yang dilakukan oleh OPM, yang kini tidak hanya terfokus pada aparat keamanan, tetapi juga menyerang warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
Tim Satgas Ops Damai Cartenz dan aparat TNI segera merespons kejadian ini dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku. “Kami berkomitmen untuk menindak tegas pelaku kriminal bersenjata yang mengganggu stabilitas keamanan di Papua,” kata Brigjen Pol Faizal Ramadhani. Hal ini menegaskan pentingnya penegakan hukum dan perlindungan terhadap masyarakat yang terancam di wilayah tersebut.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Candra Kurniawan juga menegaskan bahwa setelah insiden ini, pihak keamanan tengah melakukan pengejaran terhadap kelompok OPM yang bertanggung jawab atas tindakan biadab tersebut. Dalam waktu yang sama, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh situasi yang tegang ini.
Dalam konteks lebih luas, serangan yang terus-menerus oleh OPM terhadap TNI dan warga sipil menunjukkan semakin mengkhawatirkan kondisi keamanan di Papua. Beberapa media melaporkan bahwa OPM kehilangan simpati masyarakat Papua, terutama setelah meningkatnya serangan yang menargetkan warganya sendiri, termasuk orang asli Papua. Konflik ini tidak hanya menimbulkan ketidakamanan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup komunitas lokal yang terjebak dalam situasi berbahaya.
Kepala Satuan Tugas Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Polisi Yusuf Sutejo, menekankan pentingnya kerja sama antarwarga untuk menjaga keamanan dan kestabilan. “Kami minta masyarakat untuk mempercayai aparat yang sedang berupaya menegakkan keamanan dan meminta agar tidak terprovokasi,” ujarnya.
Ketegangan yang terus berlanjut ini memerlukan perhatian dari semua pihak. Situasi di Papua bukan hanya masalah lokal, tetapi juga berdampak pada stabilitas nasional. Aparat keamanan diharapkan dapat berperan maksimal dalam meredakan konflik, serta melindungi hak-hak masyarakat sipil yang sering kali menjadi korban.
Di tengah ketegangan ini, peran masyarakat dan aparat keamanan menjadi kunci untuk menciptakan daerah yang aman dan damai. Harapannya, langkah-langkah yang diambil oleh otoritas terkait akan mampu menghentikan spiral kekerasan yang mengancam kehidupan di wilayah tersebut. Masyarakat setempat sangat membutuhkan dukungan dan perlindungan, sehingga mereka dapat hidup tanpa rasa takut dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal.





