Timnas Indonesia mengalami kekalahan telak yang menyakitkan saat menghadapi Jepang dengan skor 0-6 dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Pertandingan yang berlangsung di Suita City Football Stadium pada 10 Juni 2025 tersebut menyoroti betapa jauh jarak antara kedua tim, baik dari segi teknik maupun strategi permainan.
Enam gol yang dicetak oleh Daichi Kamada, Takefusa Kubo, Ryoya Morishita, Shuto Machino, dan Mao Hosoya mencerminkan dominasi Jepang dalam pertandingan tersebut. Meski kekalahan itu tidak berpengaruh pada posisi Indonesia di klasemen akhir grup C, fakta bahwa Timnas masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke babak keempat Kualifikasi Piala Dunia memberikan sedikit harapan bagi para penggemar.
Namun, kekalahan ini jelas menandakan bahwa pelatih Patrick Kluivert memiliki banyak pekerjaan rumah sebelum pertandingan mendatang. Penampilan buruk pasukan Garuda ini tidak hanya jadi sorotan media lokal, tetapi juga menarik perhatian dari pundit asing, khususnya Tom Byer. Byer, yang dikenal sebagai praktisi pembinaan sepak bola muda, tak segan menyampaikan pandangannya terhadap situasi sepak bola Indonesia.
Dalam sebuah cuitan yang memicu diskusi, Byer mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap campur tangan politik dalam olahraga. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan sepak bola di Asia Tenggara, bahkan sebanding dengan Brasil, jika hanya politik dihilangkan dari dunia sepak bola. “Saya sudah mencoba di Indonesia, tetapi politiknya terlalu melelahkan,” ungkap Byer. Komentar ini jelas menjadi sindiran tajam bagi pengurus sepak bola Indonesia yang mungkin lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada perkembangan olahraga.
Kekalahan ini bukanlah yang pertama bagi Indonesia saat melawan Jepang. Memori buruk kekalahan 0-6 dari Jepang pada 1976 dan 5-0 pada 1989 kembali menghantui, menunjukkan bahwa situasi ini telah terjadi berulang kali tanpa adanya perbaikan signifikan. Dalam 10 pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026, Jepang berhasil mencetak 27 gol, sementara Indonesia kebobolan 20 gol.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh Timnas Indonesia jika ingin bersaing di level yang lebih tinggi. Ini termasuk perbaikan di sektor pembinaan pemain muda, yang dinilai sangat penting oleh Tom Byer. Ia pernah mencatat bahwa investasi yang lebih baik dalam pembinaan usia muda dapat membawa Indonesia ke ajang internasional seperti Piala Dunia U-17.
Sikap skeptis Byer terhadap pengurus sepak bola Indonesia bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, kiblat sepak bola Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh keputusan-keputusan yang tidak berdasarkan pada kemajuan olahraga. Pelatih dan pengurus harus menyadari bahwa keberhasilan di lapangan tidak bisa dipisahkan dari kestabilan dan profesionalisme dalam pengelolaan tim.
Oleh karena itu, saran serta kritik dari praktisi seperti Byer seharusnya dijadikan bahan refleksi. Harapan untuk melihat Indonesia berkompetisi di level dunia tidak sepenuhnya sirna, tetapi harus dituangkan dalam tindakan nyata yang berfokus pada pengembangan jangka panjang.
Dengan kekalahan ini, harapan untuk bisa melaju ke Piala Dunia 2026 tergantung pada strategi dan rencana yang tepat dari para pengurus dan pelatih. Pertandingan mendatang akan sangat krusial, dan dukungan dari semua pihak, termasuk penggemar dan sponsor, sangat diperlukan untuk memulihkan semangat tim.





