Rebutan ‘Emas Hitam’ di Negara Kaya Minyak
Pada awal Januari 2026, Amerika Serikat berhasil menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dengan tujuan utama menguasai minyak mentah negara tersebut. Langkah ini memicu ketegangan global, mengingat China telah berinvestasi di Venezuela selama lebih dari dua dekade.
China merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia yang sejak tahun 2000 membina hubungan erat dengan Venezuela. Meski Amerika Serikat berupaya memutuskan hubungan ekonomi antara Venezuela dan China, Beijing tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Venezuela.
Peran Minyak dalam Konflik Venezuela
Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, dengan jumlah terkonfirmasi mencapai lebih dari 300 miliar barel. Namun, produksi minyaknya menurun drastis sejak puncaknya sebesar 3 juta barel per hari menjadi hanya 1 juta barel per hari akibat manajemen buruk dan sanksi Amerika Serikat.
Klaim Amerika Serikat atas "pengembalian minyak yang dicuri" berkaitan dengan tindakan nasionalisasi aset perusahaan minyak besar AS oleh pemerintah Venezuela pada tahun 2007 di bawah Presiden Hugo Chávez. Sejak itu, hanya Chevron yang tersisa sebagai perusahaan minyak besar Barat yang beroperasi di Venezuela.
Dinamika Hubungan China dan AS di Venezuela
Walaupun Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan bahwa China akan terus membeli minyak Venezuela, Beijing sendiri menunjukkan sikap keras terhadap tindakan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyebut serangan AS sebagai bentuk intimidasi yang sembrono dan menegaskan pentingnya perlindungan hak serta kepentingan sah Beijing di negara tersebut.
Delcy Rodríguez, Penjabat Presiden Venezuela, menyambut dukungan China dan menyatakan apresiasi terhadap sikap konsisten Beijing dalam mengutuk pelanggaran kedaulatan negaranya. Pertemuan antara Rodríguez dan Duta Besar China di Venezuela, Lan Hu, mempertegas kerjasama kedua negara.
Tantangan Investasi dan Produksi Minyak Venezuela
Hubungan ekonomi antara Venezuela dan China mudah mengalami ketegangan. Selama 12 tahun pemerintahan Maduro, investasi dan perdagangan bilateral menurun akibat masalah pembayaran utang dan penurunan produksi minyak. Hal ini menjadi tantangan bagi kedua negara yang mengandalkan kerja sama strategis di sektor energi.
Minyak mentah tetap menjadi sumber daya vital yang memicu persaingan antara kekuatan global. Ketidakstabilan politik dan upaya pengaruh asing di Venezuela menjadi faktor utama dalam perebutan kendali atas sumber daya alam ini.
Faktor-faktor utama dalam konflik minyak di Venezuela:
- Cadangan minyak terbesar dunia dengan lebih dari 300 miliar barel.
- Produksi menurun tajam dari 3 juta menjadi 1 juta barel per hari.
- Intervensi AS dan upaya penguasaan atas minyak Venezuela.
- Investasi dan dukungan China yang berkelanjutan.
- Sanksi ekonomi dan masalah pembayaran utang Venezuela kepada China.
Situasi terkini menunjukkan bahwa perebutan sumber daya minyak di Venezuela bukan hanya persoalan lokal. Ini merupakan salah satu arena persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China di Amerika Latin. Kedua negara mempertahankan pengaruh ekonomi dan politiknya di wilayah tersebut dengan berbagai strategi.
Perkembangan konflik ini kian menarik untuk diikuti karena sumber daya minyak yang disebut ’emas hitam’ tetap menjadi komoditas vital dalam perekonomian global. Semua pihak yang berkepentingan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas regional dan pasar energi dunia.
